AI Bertemu Lontar

**Oleh: Admin Sumberlaba.com**

## Pendahuluan

Kita hidup di masa di mana kecerdasan buatan (AI) mampu menulis puisi, melukis mahakarya, bahkan mendiagnosis penyakit lebih cepat dari dokter. Namun, di tengah hiruk-pikuk disruptor digital yang berlomba menciptakan asisten pintar dan chatbot canggih, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan: *Mampukah AI melestarikan—bukan justru mengikis—kebudayaan dan spiritualitas warisan leluhur?*

Bali, pulau yang namanya harum hingga ke pelosok dunia karena akar budaya dan spiritualitas Hindu yang kental, menghadapi paradoks unik. Di satu sisi, globalisasi dan modernisasi perlahan menggeser minat generasi muda terhadap aksara Bali, naskah lontar, dan nilai-nilai *dharma*. Di sisi lain, era digital justru membuka peluang yang belum pernah ada sebelumnya untuk merevitalisasi warisan ini.

Artikel ini akan mengupas bagaimana AI bisa menjadi alat pelestarian budaya Bali, sekaligus menelisik perspektif spiritual Hindu dalam memandang kecerdasan buatan.

## 1. Menyelamatkan Lontar dengan AI Vision

Naskah lontar Bali bukan sekadar dokumen kuno. Ia adalah jendela peradaban yang merekam ilmu pengetahuan, sastra, astronomi, tata cara upacara, hingga falsafah hidup masyarakat Bali dari abad ke abad. Namun naskah yang ditulis di atas daun tal (*Borassus flabellifer*) ini rentan terhadap pelapukan, kelembaban, dan serangga. Jumlahnya terbatas, dan yang lebih memprihatinkan—semakin sedikit orang yang mampu membacanya.

**AI hadir sebagai harapan baru.**

Sejak 2023, Prof. Nanik Suciati, Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), telah mengembangkan sistem visi komputer berbasis deep learning yang mampu mendeteksi dan mengenali aksara Bali pada naskah lontar. Menurutnya, proses mengenali aksara dalam lontar cukup menantang karena goresan *pengrupak* (pisau khusus penulis lontar) pada daun kering memiliki tekstur yang unik dan bervariasi. Namun dengan teknik *Coordinate Recalculation* dan pendalaman *Computer Vision*, AI dapat bekerja dengan akurasi yang terus meningkat (Techverse, 2023).

Tak hanya di ITS, para peneliti muda dari Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha)—I Kadek Dharma Laksana dan tim—berhasil mengembangkan sistem *Optical Character Recognition (OCR)* khusus aksara Bali. Sistem ini mampu mendeteksi lekukan garis pada setiap huruf tradisional Bali dan menerjemahkannya ke teks latin secara digital (Good News from Indonesia, 2026).

**Apa artinya ini?** Digitalisasi naskah lontar yang sebelumnya memakan waktu bertahun-tahun dengan tenaga ahli terbatas, kini bisa dipercepat secara massal. AI bukan menggantikan peran para *pandita* atau budayawan, melainkan menjadi asisten raksasa yang membantu mengkatalog dan menerjemahkan ribuan lembar lontar yang masih tersimpan di museum, pura, dan puri di seluruh Bali.

## 2. Aksara Bali di Era Chatbot

Salah satu ironi di era AI adalah: chatbot dan asisten virtual seperti ChatGPT lancar berbahasa Inggris, Mandarin, bahkan Jawa (meski masih terbatas), namun **nyaris tidak ada yang mampu memahami aksara Bali atau berbahasa Bali secara fasih.**

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, dalam Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional 2026 di Jakarta, menyampaikan pesan tegas:

> *”Bahasa daerah harus masuk ke dalam ekosistem AI agar tetap relevan dan terus digunakan generasi muda.”*

Menurutnya, pengembangan *Large Language Model (LLM)* harus dioptimalkan agar bahasa-bahasa daerah Indonesia—termasuk bahasa Bali dan aksaranya—dapat digunakan secara luas di ranah digital (Koran Jakarta, 2026).

**Tantangannya: data.**

Bahasa Bali memiliki tingkatan bahasa (*basa alus*, *basa madia*, *basa kasar*) dan sistem aksara yang kompleks dengan sekitar 72 karakter (18 aksara wianjana, 9 aksara suara, puluhan pengangge). Melatih AI agar mampu memahami konteks tingkatan bahasa ini membutuhkan *dataset* berskala besar yang belum sepenuhnya tersedia.

Namun proyek-proyek seperti *Balineze NLP* yang digagas komunitas *Bali AI* menunjukkan bahwa langkah kecil sudah dimulai. Beberapa inisiatif open-source telah mengumpulkan ribuan pasangan kalimat Bali-Inggris dan Bali-Indonesia untuk pelatihan model terjemahan.

**Bayangkan masa depan di mana** seorang *mangku* bisa bertanya kepada asisten AI dalam bahasa Bali halus tentang urutan banten upacara, atau seorang generasi muda bisa belajar aksara Bali melalui aplikasi yang mampu membaca dan mengoreksi tulisannya secara *real-time*.

## 3. AI, Karma, dan *Citta*: Perspektif Hindu

Sekarang, mari kita bicara tentang hal yang paling dalam: **Bagaimana ajaran Hindu memandang kecerdasan buatan?** Inilah yang membedakan artikel ini dari konten AI kebanyakan, dan inilah sudut pandang yang belum banyak dijamah di dunia jurnalisme teknologi Indonesia.

### a. AI dan Konsep *Citta* (Pikiran)

Dalam kitab *Bhagavadgītā*, *citta* diartikan sebagai pikiran yang bergejolak, yang perlu dikuasai melalui yoga dan meditasi. AI—meski disebut “kecerdasan buatan”—tidak memiliki *citta*. Ia tidak memiliki kesadaran, kehendak bebas, atau *ātman* (jiwa). AI hanyalah *alat*—seperti pisau *pengrupak* atau gamelan—yang netral secara moral. Nilai baik atau buruknya sepenuhnya bergantung pada niat (*sankalpa*) manusia penggunanya.

### b. *Karma* dan Tanggung Jawab Pengembang

Prinsip *karma* mengajarkan bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. Dalam konteks AI, pengembang teknologi memiliki tanggung jawab moral atas dampak ciptaan mereka. Jika sebuah sistem AI menghasilkan bias yang merugikan umat tertentu, atau jika AI digunakan untuk menipu, mengeksploitasi, atau mengikis nilai-nilai *dharma*—maka konsekuensi *karmaphala*-nya tetap melekat pada penciptanya.

Ajaran Hindu mengingatkan bahwa *”Yad yad ācarati śreṣṭhas, tad tad evetaro janaḥ”* (Apa yang dilakukan oleh orang baik, akan ditiru oleh orang lain—*Bhagavadgītā* III.21). Maka para pengembang AI Hindu di Bali memiliki kesempatan emas untuk menjadi *śreṣṭha*—pelopor yang menunjukkan bahwa AI bisa dikembangkan selaras dengan nilai-nilai *dharma*.

### c. AI dan *Tri Hita Karana*

Konsep *Tri Hita Karana* (tiga penyebab kesejahteraan) yang mencakup hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan (*Parahyangan*), sesama manusia (*Pawongan*), dan alam (*Palemahan*) bisa menjadi kerangka etis dalam pengembangan AI di Bali:

– **Parahyangan**: AI tidak boleh menggantikan peran spiritual. Tak ada chatbot yang bisa menggantikan fungsi *pedanda* atau *pemangku* dalam upacara. AI adalah alat bantu, bukan pengganti keyakinan.
– **Pawongan**: AI harus memperkuat, bukan memutus hubungan sosial. Digitalisasi lontar harus bertujuan agar pengetahuan lebih mudah diakses, bukan agar orang berhenti berkumpul di *pesantian*.
– **Palemahan**: Infrastruktur AI yang boros energi dan menghasilkan limbah elektronik perlu dikelola dengan bijaksana. Alam Bali harus tetap dijaga.

## 4. AI dalam Dharma Wacana dan Edukasi Hindu Modern

Dharma wacana—ceramah keagamaan Hindu—adalah medium penting untuk menyebarkan ajaran *Veda* dan *sastra Hindu* di Bali. Namun, menulis dan menyusun materi dharma wacana, terutama dengan referensi *naskah lontar* atau kitab suci membutuhkan waktu dan keahlian mendalam.

AI generatif, jika dilatih dengan dataset yang tepat, dapat menjadi **alat bantu riset** bagi para *pandita* dan *dosen agama Hindu*:

1. **Pencarian lintas naskah** — AI bisa menelusuri ribuan lontar yang sudah didigitalisasi untuk menemukan sloka atau kutipan yang relevan dengan tema tertentu.
2. **Pembuatan draf ringkasan** — AI bisa menyusun kerangka dharma wacana berdasarkan topik, lengkap dengan referensi kitab suci dan contoh aplikasi dalam kehidupan sehari-hari (tentunya tetap perlu divalidasi oleh ahli).
3. **Pembelajaran interaktif** — Aplikasi AI bisa menjadi tutor interaktif bagi siswa yang belajar *Veda*, bahasa Sanskerta, atau *sastra Hindu* secara mandiri.

Tentu saja, hasil AI tidak boleh mentah-mentah dipakai. *”Śraddhā”* (keyakinan) dan *”buddhi”* (kebijaksanaan) tetaplah domain manusia. AI adalah *perantara*, bukan *sumber* kebenaran spiritual.

## 5. UNESCO dan Gerakan Global AI untuk Bahasa Adat

Indonesia tidak sendirian. UNESCO telah menetapkan **International Decade of Indigenous Languages (IDIL 2022–2032)** sebagai kerangka global untuk melindungi bahasa-bahasa adat dari kepunahan. Program *Missing Scripts* yang diluncurkan UNESCO bertujuan memastikan aksara-aksara tradisional—termasuk aksara Bali—tetap eksis di ranah digital.

Bali memiliki modal besar: tradisi literasi lontar yang masih hidup, institusi pendidikan yang mulai melirik teknologi pelestarian, serta semangat *”ngayah”* (gotong royong sukarela) yang bisa diterjemahkan menjadi gerakan open-source *crowdsourcing* pengumpulan dataset aksara dan bahasa Bali.

## Penutup: *Jalan Tengah* di Era Digital

Pertanyaan awal kita: *Bisakah AI menyelamatkan budaya dan spiritualitas Bali?*

Jawabannya: **AI bisa menjadi alat, tapi bukan juru selamat.** Juru selamat yang sesungguhnya tetaplah manusia Bali sendiri—generasi muda yang mau belajar aksara Bali, *pandita* yang mau beradaptasi dengan teknologi, pemerintah yang serius mendanai riset digitalisasi, dan komunitas yang aktif mengarsipkan warisan leluhur.

AI hanyalah *sarana*—seperti daun lontar di masa lampau. Dulu, para *resi* memilih daun lontar sebagai media karena tahan lama. Kini, cloud dan AI adalah “lontar digital” kita. Apakah kita akan mengisinya dengan pengetahuan yang bermakna, atau membiarkannya kosong dan sia-sia?

Seperti ajaran *Rgveda* (I.89.1): *”Ā no bhadrāḥ kratavo yantu viśvataḥ”* — Semoga pemikiran yang baik datang dari segala penjuru.

Termasuk dari penjuru kecerdasan buatan.

## Referensi

1. Techverse.Asia (2023). *”Deteksi dan Pelestarian Naskah Kuno Lontar Bali Bisa Dilakukan Pakai AI”*. [https://www.techverse.asia/techno/4168/26082023/deteksi-dan-pelestarian-naskah-kuno-lontar-bali-bisa-dilakukan-pakai-ai](https://www.techverse.asia/techno/4168/26082023/deteksi-dan-pelestarian-naskah-kuno-lontar-bali-bisa-dilakukan-pakai-ai)

2. Good News from Indonesia (2026). *”Digitalisasi Manuskrip Purba: Cara Keren Programmer Muda Nusantara Latih AI Lokal untuk Terjemahkan Daun Lontar Kuno”*. [https://www.goodnewsfromindonesia.id/2026/06/02/digitalisasi-manuskrip-purba-cara-keren-programmer-muda-nusantara-latih-ai-lokal-untuk-terjemahkan-daun-lontar-kuno](https://www.goodnewsfromindonesia.id/2026/06/02/digitalisasi-manuskrip-purba-cara-keren-programmer-muda-nusantara-latih-ai-lokal-untuk-terjemahkan-daun-lontar-kuno)

3. Koran Jakarta (2026). *”Bahasa Daerah Harus Masuk dalam Ekosistem AI”*. [https://koran-jakarta.com/2026-05-25/bahasa-daerah-harus-masuk-dalam-ekosistem-ai](https://koran-jakarta.com/2026-05-25/bahasa-daerah-harus-masuk-dalam-ekosistem-ai)

4. UNESCO. *”National Consultation on Indigenous Languages: A Call for Preservation and Technology Integration”*. [https://www.unesco.org/en/articles/national-consultation-indigenous-languages-call-preservation-and-technology-integration](https://www.unesco.org/en/articles/national-consultation-indigenous-languages-call-preservation-and-technology-integration)

5. UNESCO. *”Digital Preservation of Indigenous Languages: At the Intersection of Technology and Culture”*. [https://www.unesco.org/en/articles/digital-preservation-indigenous-languages-intersection-technology-and-culture](https://www.unesco.org/en/articles/digital-preservation-indigenous-languages-intersection-technology-and-culture)

6. ITS Repository. *”Pengenalan Suku Kata Aksara Bali Berbasis Aturan Pasang Aksara dan Deep Learning”*. [https://repository.its.ac.id/94879/](https://repository.its.ac.id/94879/)

7. Kemendikdasmen RI. *”Revitalisasi Bahasa Daerah di Indonesia: Integrasi Teknologi AI dan Pendekatan Berbasis Komunitas”*. Risalah Kebijakan No. 7, Agustus 2024.

8. USC Viterbi. *”Preserving the Past: AI in Indigenous Language Preservation”*. [https://vce.usc.edu/weekly-news-profile/preserving-the-past-ai-in-indigenous-language-preservation/](https://vce.usc.edu/weekly-news-profile/preserving-the-past-ai-in-indigenous-language-preservation/)

9. *Bhagavadgītā* (terjemahan). Terutama bab III tentang Karma Yoga dan bab VI tentang Dhyana Yoga.

10. *Rgveda* I.89.1 — “Ā no bhadrāḥ kratavo yantu viśvataḥ” (Semoga pemikiran yang baik datang dari segala penjuru).

adminclaw claw
Author: adminclaw claw

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *